Kamis

SDI


Sumber Daya yang Terlupakan

Nenek moyangku seorang pelaut... Gemar mengarungi luas samudera, dst. Lagu itu diajarkan oleh guru-guru kita saat kita masih di bangku TK. Syair itu menggambarkan bagaimana nenek moyang kita dahulu melaut. Mereka adalah orang-orang yang tangguh mencari kekayaan di samudera yang bisa saja menelan jiwa mereka. Tapi tak sedikit pun mereka takut karena mereka mempunyai prinsip “Siapa menaklukkan gelombang, dia yang akan menggenggam dunia.” Beberapa buku sejarah SD kita juga bercerita bahwa kerajaan pertama Indonesia, Sriwijaya, memiliki potensi luar biasa dengan memanfaatkan lautan sehingga disebut kerajaan maritim. Relief-relief di Candi Borobudur juga menggambarkan bagaimana manusia pada zaman itu memanfaatkan potensi laut.

Alquran juga banyak memberikan isyarat tentang potensi laut yang luar biasa. Disana juga dijelaskan bagaimana sejarah orang-orang pada zaman dahulu yang mencari kekayaan dengan memanfaatkan lautan. Sampai-samapai dalam QS Ala’raaf 163 Allah melarang Bani Israil yang tinggal di dekat pantai mencari ikan pada hari Sabtu karena mereka telah berlebihan. Karena mereka tidak patuh maka disebutkan bahwa mereka tidak akan menemukan ikan lagi setelahnya (overfishing).

Di sisi lain, Allah memberikan isyarat kepada manusia untuk memanfaatkan potensi luar biasa berupa lautan. Misalnya dalam QS Annahl:14. “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”

Indonesia negeri yang kaya akan potensi lautan. Negara yang secara geografis diapit oleh dua Samudera penting di dunia, yakni Samudera Pasifik dan Hindia. Memiliki kepulauan terbesar di bumi dengan jumlah pulau 18.108 dan garis pantai sepanjang 81 ribu kilometer (Djamil, 2010). Dua samudera itu menjadi arus lalu lintas penting bagi perdagangan negara-negara di dunia. Tak hanya itu, Indonesia juga dilalui oleh The great conveyor belt yang membawa arus dingin hasil upwelling yang kaya akan nutrisi dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia (Arus Lintas Indonesia = Arlindo) Belum lagi topografi laut Indonesia yang mendukung terjadinya up welling. Menurut Komisi Plasma Nutfah Indonesia, perairan umum daratan Indonesia mempunyai plasma nutfah luar biasa dengan jumlah jenis ikan 25% dari jenis ikan yang ada di dunia. Sumber daya hayati khususnya sumber daya ikan yang dimaksud di sini adalah seluruh organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya di laut. Itu artinya tidak hanya ikan, tetapi juga rumput laut, cumi-cumi, mutiara, algae, dsb. Belum lagi yang non ikan, seperti tambang bawah laut. Namun faktanya PDB (Produk Domestik Bruto) kita hanya 2,75% yang disumbang oleh sektor perikanan. Itu artinya Indonesia masih belum berhasil memanfaatkan potensi laut secara optimum. Padahal menurut Poernomo (2010) potensi lestari maksimum (MSY) kita 6,4 juta ton per hari untuk seluruh jenis ikan.

Alquran juga menjelaskan tentang adanya dua laut yang mengalir lalu kemudian bertemu tetapi memiliki batas di antara keduanya yang tidak dapat dilampaui oleh masing-masing. Disana dapat dijumpai lu’lu’ dan marjan (QS. Arrahman 19-22). Bisa jadi yang Allah maksud dua laut itu adalah dua samudera yang mengapit Indonesia. Karena keduanya memilki karaketeristik yang berbeda satu sama lain, baik sensitas, salinitas, suhu, arus, dsb. Artinya Allah memberikan sebuah isyarat kepada bangsa Indonesia untuk memanfaatkan potensi itu. Perlu diketahui bahwa penduduk yang mayoritas muslim lebih dari 90% tinggal di kawasan pesisir. Namun ironisnya hanya 3% yang menjadi nelayan (Djamil, 2010). Potensi luar biasa dari laut rupanya kurang bisa terbaca oleh masyarakat Indonesia baik yang tersirat di laut maupun yang tersurat di Alquran.

Padahal banyak negara kecil yang makmur karena memanfaatkan potensi lautan. Bahkan sebagian besar negara maju karena memanfaatkan potensi lautan, seperti Jepang, Hongkong, Inggris, bahkan negara kecil tetangga kita, Singapura. Seharusnya kita, bangsa Indonesia yang mempunyai potensi besar, bahkan lebih dari mereka mampu bersyukur karena keufuran membawa dampak pahit bagi kita. Allah mengncam hambanya yang kufur dengan siksa yang pedih.

Sesungguhnya stake holder dalam hal ini, yakni pemerintah memiliki peranan penting. Kebijakan pembangunan yang memihak kepada pemanfaatan Sumber Daya Ikan di laut Indonesia secara optimum dan berkelanjutan sangat diperlukan. Sebab lautan bukanlah suatu kendala tetapi solusi kekayaan negeri kita. Laut kita perlu dijaga dengan pertahanan yang kuat sehingga tidak sampai terjadi lagi pencurian ikan oleh negara-negara yang sadar akan potensi laut Indonesia. Laut kita perlu dijaga dari keserakahan manusia yang bisa mengakibatkan over fishing dengan peraturan-peraturan dan kebikjakan yang memihak kepada kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali kemakmuran para ikan itu sendiri dan generasi-generasi kita nantinya.

Tidak hanya pemerintah, tetapi kita harus memulainya dari diri kita sendiri baik secara individu maupun kelompok. Masyarakat pesisir perlu diperhatikan. Mereka umumnya tak mampu mempertahankan harga ikan karena terlilit oleh kebutuhan. Hal ini akibat keterbatasan teknologi, keterampilan menambah nilai jual ikan, dan ekonomi mereka sendiri. Mau tidak mau mereka menjual ikan yang telah mereka dapatkan susah payah dari melaut seharian dengan harga tak sebanding dengan keringat yang dicucurkan. Bagaimana tidak, kalu tidak mereka berikan, ikan akan mudah busuk dan tidak laku terjual.

Secara individu kita bisa membantu nelayan dengan memperbanyak makan ikan dan mengampanyekan makan ikan. Karena Indonesia yang kaya laut ini kenyataannya memiliki tingkat konsumsi ikan yang sangat rendah. Berdasarkan data Susnas tahun 2008 (Poernomo, 2010), di desa, konsumsi ikan hanya 20,23 kg/kapita/tahun. Sementara di kota tidak beda jauh, yakni 20,65 kg/kapita/tahun. Angka ini masih relatif kecil dibandingkan negara tetangga kita, seperti Singapura (85 kg/kapita/tahun) atau Malaysia (45 kg/kapita/tahun).

Secara berkelompok kita bisa membantu para nelayan dan masyarakat pesisir dalam mengeksplorasi potensi sumber daya alam yang tersedia di depan mata maupun sumber daya manusianya. Mengentas berbagai kemiskinan yang hingga kini masih diidap oleh masyararakat pesisir, baik kemiskinan secara materiil maupun moril ataupun spiritual. Sebagian besar dari mereka yang mayoritas muslim masih banyak yang mengidap penyakit bid’ah, khurofat, tahayul, hingga syirik. Contoh kecilnya mereka masih percaya Nyi Roro Kidul beserta upacara-upacara untuk menyembahnya. Melalui itu kita dapat membantu mereka kita memperoleh kekayaan moral dan spiritual dan kebahagiaan yang kekal. Sementara serara materi kita bisa membantu mengolah hasil tangkapan maupun perekonomian mereka. Kita dapat menerapkan koperasi atau perbankan yang bebas riba sehingga menunjang modal mereka dalam melaut maupun mengolah hasil tangkapan sehingga mereka bisa merasakan keuntungan dari penghasilan mereka, atau hal-hal lain yang membebaskan mereka dari keterpurukan secara ekonomi maupun sosial. Tetapi sekali lagi dukungan dari pemerintah juga sangat diperlukan. Wallahu a’lam bishshowab
Fastabiqulkhoirot.

Senin

Darul Arqom Dasar 2010 Bogor


Darul Arqom Dasar IMM Bogor tahun 2010 dikemas dengan model yang unik. Ini karena konsep acaranya dibuat sedikit berbeda dengan Sistem Perkaderan Ikatan. DAD yang seharusnya dilaksanakan empat hari empat malam langsung dan berturut-turut, kali ini dilaksanakan tidak secara langsung dan berturur-turut. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dan waktu yang dimiliki kader.

DAD dengan tema “Membangaun Kader dengan Semangat Melangit dan Ideologi Membumi” ini dilaksanakan dalam tiga sesi. Sesi pertama berlangsung hari Sabtu-Ahad, 13-14 Maret 2010 di masjid Al-Furqon PDM Kota Bogor. Pada sesi ini dilaksanakan pembukaan DAD. DAD dibuka langsung oleh Kabid Kader DPP IMM, Immawan Pedri Kasman. Adapun materi yang disampaikan pada sesi ini antara lain: Tauhid dalam Kehidupan oleh Ketua Umum PDM Kota Bogor, KH. Muhyidin Jenaedi dan Ke-IMMan oleh Kabid Kader IMM Jabar, Immawan Hafizh Fakhruddin. Tak hanya itu, pada sesi pertama ini juga dilaksanakan Talk Show bersama alumni IMM Bogor.

Sementara itu, sesi kedua DAD kali ini dilaksanakan pada Ahad depannya, yakni pada tanggal 21 Maret 2010 di Mu’allimin Muhammadiyah Kabupaten Bogor. Pada sesi ini DAD hanya dilaksanakan sehari mulai pukul 08.30 sampai 15.00 WIB. Pada sesi ini materi yang disampaikan antara lain: Sejarah Perjuangan Muhammadiyah oleh KH. Adang Qomaruddin, mantan Ketua Umum PDM Kabupaten Bogor dan Manajemen Konflik oleh Bendahara PP Pemuda Muhammadiyah sekaligus Ketua STKIP Muhammadiyah Bogor yang akrab dipanggil Kang Yus. Pada sesi ini peserta diajak mengenal sentra Muhammadiyah Kabupaten Bogor yang terletak di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor.

Sesi terakhir DAD 2010 dilaksanakan kembali di Masjid Alfurqon, PDM Kota Bogor pada Sabtu-Ahad berikutnya, 27-28 Maret 2010. Adapun materi yang disampaikan pada sesi ini antara lain: Tantangan IMM dalam Era Globalisasi oleh Kang Akmal, mahasiswa Pascasarjana (Alumni ITB), Pengantar Filsafat oleh Ketua Korps Instruktur IMM Nasional, Immawan Abdul Halim Sani. Selain itu peserta diajak mengikuti Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Alfurqon dengan materi berjudul “Penghinaan Terhadap Allah SWT” dengan pembicara Peneliti Independen Lintas Kitab Suci, Ust. Kodiran Salim. Selanjutnya materi terakhir DAD kali ini adalah Analisis Sosial (ansos) oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin (Peramu). Rencana Tindak Lanjut (RTL) pun telah dirancang oleh peserta. Adapun RTL yang dibuat adalah kajian lebih lanjut tentang analisis sosial disertai aplikasi secara langsung.

DAD ini alhamdulillah berlangsung dengan baik tetapi tentunya dilengkapi dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, DAD ini dirasa mampu mengupayakan terbentuknya kader-kader berkualitas dan penuh dengan loyalitas serta dedikasi pada ikatan. Hal ini karena peserta DAD benar-benar diuji loyalitasnya selama DAD. Peserta yang bertahan tetap mengikuti DAD sampai sesi terakhir diharapkan mampu menjadi kader inti ikatan yang dapat melanjutkan perjuangan ikatan yang penuh dengan lika-liku dan tantangan ini. Segala kekurangan dan kelebihan DAD sistem seperti ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi untuk perkembangan perkaderan ke depan.

Akhir kata, DAD dengan sistem yang disesuaikan dengan keadaan penyelenggara maupun peserta insya Allah tidak akan kalah dengan perkaderan yang ideal dilaksanakan dalam membangun kader-kader persyarikatan, ummat, dan bangsa. Sehingga pada akhirnya IMM sebagai organisasi kader diramaikan oleh orang-orang yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar serta ikhlas berjuang di jalan Allah. Billahi fii sabiililhaq fastabiqulkhoirot. (ark)

Jumat

ENSO Occurs


Normally, surface winds in Pasific Ocean move from east to west. The trade winds blow from the normally high pressure are over the eastern Pacific (Near central and South merica) to normally low pressure area over the western Pacific (North of Australia). But sometimes cell circulation doesn’t seem to play by the rules. In three to eight year cycles, atmospheric circulation changes significantly from the pattern: hight pressure builds in the western Pacific and low pressure dominates the eastern Pacific. So, wind occross the tropical Pacific then reverse direction and blow from west to east and the trade winds weaken or reverse. This change in atmospheric pressure is called The Shoutern Oscillation.

The trade winds normally drag huge quantities of water westward along the ocean’s surface on each side of equator, but as the winds weaken, the equatoriel curretnts crawl to a stop. The eastward moving warm from water usually arrives near the south American. This current is called by El-Nino.

El-Nino and La-Nina phenomena are caupled, so these are combined from the acronym ENSO. The effects of this phenomena are felt not only in the Pacific , but all ocean areas at trade wind latitudes in both hemispheres can be affected.

Senin

Momen Ibadah : Gerhana di Tahun 2010


Pada awal tahun 2010 wilayah Indonesia dan sekitarnya disambut dengan sebuah tanda-tanda kebesaran Allah. Hari itu bertepatan dengan tanggal 1 Januari 2010, tahun baru masehi. Tepat setelah kurang lebih satu jam penduduk Indonesia merayakan tahun baru masehi, Allah menunjukkan keagungan-Nya dengan adanya gerhana matahari, lima belas hari setelah tahun baru hijriyah.

Menurut perhitungan ilmu falaq, pada tahun 2010, akan terjadi empat kali gerhana di bumi. Gerhana tersebut masing-masing: dua kali gerhana matahari dan dua kali gerhana bulan. Dua kali gerhana matahari dimaksud adalah, pertama, gerhana pada hari Jumat tanggal 15 Januari 2010 dan Jumat, 11 Juni 2010. Sedangkan dua gerhana bulan adalah gerhana bulan pada hari Sabtu, 26 Juni 2010 dan Selasa, 21 Desember 2010.

Dari data tersebut, satu gerhana telah terjadi beberapa hari yang lalu, tepatnya: Jumat, 15 Januari pukul 15.00-15.37 WIB. Gerhana tersebut merupakan gerhana anular (gerhana cincin). Namun kita di kawasan barat Indonesia pada saat itu hanya mengalami gerhana parsial (sebagian), yang berarti di kawasan itu piringan matahari hanya akan tertutup sebagian saja oleh piringan bulan, sedang sebagian lagi tetap bersinar ke kawasan itu. Oleh karena itu gerhana parsial tidak begitu dirasakan adanya. Bahkan karena kita berada dipinggir bayangan penumbra, maka tidak akan dirasakan sama sekali kalau dilihat dengan mata biasa.

Peristiwa gerhana merupakan salah satu peristiwa yang menjadi perhatian khusus bagi umat Islam. Sebab dalam peristiwa ini Rasulullah memberikan contoh melaksanakan ibadah-ibadah sunnah untuk mengagungkan Allah. Ibadah tersebut antara lain shalat gerhana (sholat kusufain), memperbanyak membaca istighfar, sedekah dan segala amalan yang baik.

Adapun dasar syar’i pelaksanaan ibadah ini antara lain:

عن أبي مَسْعُودٍ قال قال النبي صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ من الناس وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا [رواه البخاري ومسلم]
Artinya: Dari Abu Mas’ud r.a., ia berkata: Nabi saw telah bersabda: Sesungguhnya matahari dan Bulan tidak gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda kebesaran Allah. Maka apabila kamu melihat gerhana keduanya, maka berdirilah dan kerjakan salat [HR al-Bukhari dan Muslim].
عن عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ على عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلاَةَ جَامِعَةً فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ [رواه البخاري واللفظ له ، ومسلم ، وأحمد] .
Artinya: Dari Aisyah (diriwayatkan) bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka ia lalu menyuruh orang menyerukan “ash-shalatu jami‘ah”. Kemudian beliau maju, lalu mengerjakan salat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud [HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad].
Melaksanakan sunnah Rasulullah merupakan suatu kebutuhan bagi seorang mukmin demi mendapat keridhaan dan cinta yang lebih dari Allah SWT. Oleh sebab itu, hendaknya menjadi pendorong kita sebagai orang yang beriman untuk menjalankannya sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Oleh karena itu, momen-momen penting yang bisa dimanfaatkan hendaknya tidak disia-siakan. Salah satunya adalah pada saat gerhana. Di tahun ini, insya Allah di beberapa wilayah di Indonesia akan menemuinya sebanyak tiga kali lagi. Maka sekali lagi, relakah kita melewatkan momen spesial untuk menjalankan sunnah Rosul sebagai sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukankah itu menjadi tujuan utama kehidupan kita.
Mulai saat ini, alangkah baiknya jika teman-teman pembaca menandai kalender masing-masing sebagai pengingat akan adanya gerhana matahari maupun bulan pada tanggal-tanggal yang disebutkan di atas, agar momen itu tidak akan terlewat. Selain itu, untuk memastikan jamnya maupun kepastian daerah tempat tinggal teman-teman terkena imbasnya atau tidak, teman-teman bisa mencari info lebih lengkap di internet. Biasanya, info-info tersebut akan mulai marak menjelang terjadinya gerhana. Dan perlu diingat, banyak sekali muslim yang melewatkan momen itu dengan alasan ketinggalan info.

Rabu

Salinitas Air Laut


Talking Abaut Salinity
Salinity ( salinus = garam) menunjukkan jumlah total material padat yang terlarut dalam air, seperti lain gas – gas terlarut, karena gas – gas tersebut dapat menjadi padat pada temperatur tang cukup rendah. Yang dimaksud salinitas tidak termasuk partikel –partikel suspensi atau material padat yang berhubungan langsung dengan air sebab material – material tersebut tidak larut dalam air.[i] Air laut memiliki salinitas sekitar 3,5 %, yakni sekitar 220 kali salinitas air tawar. Salinitas seringkali di ekspresikan dengan satuan part per milion (‰) sehingga angka salinitas air laut menjadi 35 ‰. Artinya, dalam 1000 gram air laut mengandung 35 gram garam.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.[ii]
Salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida[iii].
Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika teknik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).[iv]


[i] Thurman, Harold V. and Trujillo, Alan P. 2004. Introductory Oceanography Tenth Edition.New Jersey: Pearson Prentice Hall.
[ii] Anonim. Salinitas Air Laut. (terhubung berkala). http://bank-je.com/general/salinitas-air-laut/ (9 Desember 2009)
[iii] Suardi, Yogi. 2008. Salinitas Air Laut. (terhubung berkala). http://ilmukelautan.com/oseanografi/oseanografi-kimia/412-salinitas-air-laut.html(9 Desember 2009)
[iv] Suardi, Yogi. 2008. Salinitas Air Laut. (terhubung berkala). http://ilmukelautan.com/oseanografi/oseanografi-kimia/412-salinitas-air-laut.html(9 Desember 2009)

Bogor Weather Forecast, Indonesia


 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez